Belajar Melihat dari Bandara

Bagikan:

Bagikan:

Pagi itu ia merasa sudah membuat keputusan yang aman. Dalam satu penugasan lapangan di Ambon, ia memesan tiket pesawat pagi untuk kembali ke Jawa. Ia tahu matanya tidak begitu baik jika malam hari. Cahaya yang minim membuat penglihatannya kabur. Karena itu, ia memilih terbang pagi. Pagi sampai siang, pikirnya, akan lebih mudah bagi matanya.

 

Tetapi rencana sering kali hanya tinggal rencana.

 

Ia bangun dengan mata yang sangat tidak nyaman. Silau terasa tajam, seperti cahaya yang menekan dari segala arah. Ketika keluar hotel untuk naik taksi menuju bandara, ia sudah tidak sanggup membuka mata. Ia lalu memutuskan mengenakan kacamata hitam. Kacamata itu memang mengurangi silau dan rasa sakit di mata, tetapi sekaligus membuat penglihatannya hampir tidak ada.

 

Di titik itu, ia tahu ia tidak punya banyak pilihan.

 

Sesampainya di bandara, ia akhirnya mengeluarkan tongkat putih, sesuatu yang jarang ia gunakan. Selama ini ia bahkan belum merasa dirinya sebagai penyandang disabilitas. Ia hanya merasa tidak bisa melihat dengan baik dalam kondisi tertentu, terutama malam hari. Tetapi pagi itu tubuhnya seperti memaksanya mengakui bahwa kebutuhan bisa berubah kapan saja.

 

Ia sendirian.

 

Beruntung, ia pernah membaca tentang navigasi di bandara dan tahu bahwa penumpang dengan disabilitas bisa meminta pendampingan. Ia menuju meja check-in dan meminta bantuan.

 

Namun yang terjadi setelah itu justru membuka pengalaman yang lain.

 

Petugas check-in terlihat bingung. Mereka saling melirik, lalu salah satu memanggil rekannya. Tidak ada yang benar-benar tampak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya seorang petugas diminta mengantarnya ke gate.

 

Cara memandunya pun canggung. Lengannya ditarik begitu saja, seperti menarik kambing yang diarahkan berjalan.

 

Ia berhenti sebentar, lalu dengan pelan menjelaskan, “Kalau memandu orang buta, biasanya saya yang memegang lengan Anda.”

 

Petugas itu menurut. Mereka berjalan lagi.

 

Di gate, petugas lain mengambil alih. Ia mengantarnya sampai ke kursi di dalam pesawat Ambon–Jakarta. Namun sekali lagi, cara memandu orang dengan hambatan penglihatan tampaknya bukan sesuatu yang benar-benar mereka pahami.

 

Di dalam pesawat, pengalaman kecil lain terjadi. Ketika pramugari menawarkan produk atau makanan tambahan kepada penumpang, ia dilewati begitu saja. Mungkin karena dianggap tidak perlu ditanya. Mungkin juga karena orang sering berasumsi bahwa jika seseorang tidak bisa melihat, maka ia tidak membutuhkan hal-hal yang sama seperti penumpang lain.

 

Pesawat akhirnya mendarat di Jakarta.

 

Semua penumpang turun. Ia masih duduk di kursinya, menunggu seseorang memberi arahan. Matanya masih sakit, ia bahkan tidak sanggup membuka mata. Barulah pramugari menyadari bahwa ia belum keluar dari pesawat. Ia kemudian dipandu sampai pintu pesawat dan diserahkan kepada petugas lain.

 

Petugas itu lalu menyerahkannya lagi ke petugas berikutnya.

 

Di titik itu sempat terjadi kebingungan kecil, semacam “lempar tanggung jawab” yang halus tetapi terasa. Seolah-olah tidak ada prosedur yang benar-benar jelas tentang siapa yang harus mendampingi sampai tujuan berikutnya.

 

Lalu datang pertanyaan yang agak lucu.

 

“Ibu, sendirian?” tanya seorang petugas.

 

Ia mengangguk.

 

“Ibu sudah ada yang menjemput?”

 

Ia menggeleng. “Saya hanya transit. Saya harus terbang ke kota berikutnya.”

 

Beberapa orang petugas yang berdiri di dekatnya terdiam sejenak. Mungkin bagi mereka agak aneh melihat seseorang yang buta bepergian sendirian.

 

Akhirnya diputuskan siapa yang akan mengantarnya ke gate berikutnya. Ia dipandu melewati lorong, naik turun eskalator, melewati keramaian yang hanya bisa ia dengar dari suara langkah dan pengumuman bandara.

 

Satu peristiwa kecil terjadi lagi ketika ia hendak ke toilet.

 

Petugas mengantarnya ke toilet disabilitas.

 

“Selesai nanti bilang ya, Bu. Saya bukakan pintunya,” kata si pendamping sebelum ia masuk.

 

Ia menurut.

 

Beberapa menit kemudian, setelah selesai, ia memanggil dari dalam.

 

Tetapi pintu tidak terbuka.

 

Si pendamping terlihat panik di luar. Ia mencoba membuka, tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia memanggil petugas lain. Di dalam, perempuan itu mencoba meraba dinding dan pintu. Jarinya menyusuri permukaan panel sampai akhirnya menemukan sebuah tombol. Ia menekannya.

 

Pintu terbuka.

 

Situasi itu terasa sedikit lucu, sedikit gemas. Toilet disabilitas ada, tetapi bahkan pendampingnya tidak tahu cara menggunakannya.

 

Ada satu kalimat yang sering beredar dalam diskusi tentang disabilitas: setiap tubuh akan berubah, dan pada waktunya hampir semua orang akan mengalami bentuk disabilitas tertentu, entah karena usia, penyakit, atau kondisi alam.

 

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023 menunjukkan sekitar 1,3 miliar orang di dunia, sekitar 16 persen populasi global hidup dengan disabilitas yang signifikan. Angka itu diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi dan meningkatnya penyakit tidak menular.

 

Namun pengalaman kecil di bandara menunjukkan sesuatu yang sederhana: sistem kita belum benar-benar siap.

 

Padahal kemungkinan besar para petugas sudah pernah mengikuti pelatihan tentang pelayanan bagi penumpang dengan kebutuhan khusus. Tetapi dalam praktiknya, kebingungan masih sering muncul, bahkan di bandara internasional sebesar Soekarno–Hatta.

 

Bagi perempuan itu sendiri, perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang membuka cara pandang baru.

 

Ia masih belum merasa dirinya buta. Penglihatannya datang dan pergi dalam spektrum yang tidak selalu bisa diprediksi. Tetapi hari itu, keadaan memaksanya menggunakan tongkat putih dan bantuan orang lain untuk bernavigasi.

 

Dan dari perjalanan itu ia belajar dua hal sekaligus: memahami tubuhnya sendiri yang terus berubah, dan menyadari bahwa sistem yang seharusnya membantu masih sedang belajar untuk benar-benar siap. Pertanyaannya, kapan siap?