Benih, Pengetahuan, dan Kekuasaan

Bagikan:

Bagikan:

Mbah Suko (1935-2014), seorang petani gurem dari Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, meraih Penghargaan Kehati 2001 karena dinilai berjasa menyelamatkan 34 (tiga puluh empat) jenis padi (Oryza sativa) varietas lokal yang hampir punah. Padi-padi tersebut antara lain yang pernah saya saksikan saat Kerja Lapangan circa 2003/2004 ialah varietas Menthik Susu si harum gurih; Jawa Melik si padi hitam; Berlean dari lereng Merbabu yang tangguh melewati musim; Andel Abang si beras merah; dan Rajalele yang tersohor akan kelegitan, kepulenan, dan dapat ditanam secara gogo atau ladang (bukan sawah). Benih-benih itu Mbah Suko peroleh tidak dengan cara membeli, tetapi berbagi dengan komunitas-komunitas adat yang ia temui, antara lain Sedulur Sikep di Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

 

Salah seorang muridnya, secara swadaya dan swadana, meneruskan langkah Sang Guru. Ia berburu dari Balai Penelitian Padi Negara hingga komunitas, lalu terhimpunlah 15 (lima belas) jenis padi lokal termasuk ‘koleksi’ gurunya dan satu padi galur murni hasil hibrida nan melegenda: IR 64. 

 

Sebenarnya, istilah ‘koleksi’ benih kurang tepat, sebab Mbah Suko bukan Bank Benih yang menyimpan benih seperti uang di brankas dan beliau tidak memperlakukan benih sebagai aset pribadi. Beliau sadar benih-benih lokal itu bukan hasil kerja keras dirinya seorang. Benih berfungsi sosial. 

 

Perburuan salah satu murid Mbah suko itu bermuara menjadi skripsi berjudul “Tanggapan Padi Varietas Lokal terhadap Budidaya Masukan Rendah”,  menjadi monumen pengetahuan yang tersimpan di Fakultas Pertanian UGM. Singkatnya, skripsi itu membandingkan pertumbuhan dan hasil varietas-varietas padi lokal yang dihimpun dengan 1 varietas hibrida, keduanya diperlakukan secara ‘organik’ dalam arti mengandalkan sumberdaya alami setempat sebagai masukan (input), misalnya pupuk kandang buatan sendiri, pestisida nabati bikinan sendiri, hormon dari sisa bumbu dapur rumah sendiri, dan sebagainya. Skripsi itu bukan top secret, sudah tepat Fakultas Pertanian UGM tidak perlu merahasiakan sejilid skripsi demi melindungi selembar ijazah asli.

 

Bersama kelompok kreatif independen di mana ia bergiat yaitu Komunitas Belajar dan Pemberdayaan Masyarakat (KBPM) Restu Bumi, Sang Murid mencoba mengembangkan berbagai jenis padi lokal itu di Dusun Pathen, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul pada akhir 2005 hingga pertengahan 2006, berkongsi dengan seorang veteran Angkatan Darat. Kisah ini akan saya dedah pada akhir tulisan, ini janji manis saya, satu dari sekian ratus juta orang pemegang kedaulatan tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada para pembaca.

 

Benih dan Pangan

Mengapa benih dipertahankan?

 

Dalam konteks budidaya atau usaha manusia untuk bertahan hidup mengandalkan sumber genetik hewan atau tumbuhan, benih merupakan modal utama untuk bisa memanen pangan. Sesubur apapun tanah tidak akan menghasilkan pangan tanpa benih. Lingkungan di mana benih tumbuh direkayasa agar benih tumbuh sebaik-baiknya, lalu manusia panen sebanyak-banyaknya. Seringkali manusia tidak menyadari bahwa tanaman atau hewan juga layak hidup tanpa perlu menanggung beban harus melayani kepentingan manusia. Pertanian, peternakan, perkebunan baik alami maupun industri sesungguhnya berdiri di atas etika antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta yang tak jarang mendaku sebagai wakil Tuhan. Sialnya, sang wakil Tuhan ini enggan menjalankan kerja-kerja Ilahi: menumbuhkan, merawat, memulihkan.

 

Bank-bank benih didirikan, pencarian dan pencurian benih digalakkan, penyimpanan dan pengawetan dilakukan, dan perakitan benih hibrida dari benih-benih penjenis disemarakkan di laboratorium-laboratorium. Benih sumber pangan, sehingga benih selalu diperebutkan.

 

Berbagai jenis sumber pangan yang kita kenal hanya sebagian saja dari yang ada. Serealia ‘rumput-rumputan’ dan legum ‘polong-polongan’ mendominasi jenis pangan kita sebab dikembangkan terus menerus, baik karena bernilai konsumsi dan/atau ekonomi. Pemilihan ini merupakan proses seleksi leluhur kita sebelum industri pangan berdiri. Kita pemakan rumput, legum, bangsa burung, pemamah biak, namun tidak semua kita makan karena faktor kesehatan, budaya, sosial, dan kepercayaan tertentu, misalnya gurita cincin biru (Hapalochianea maculosa), ikan fugu (Takifugu sp.), dan buah bintaro (Cerbera odollam).

 

Pangan dan Pengetahuan

Sebuah pepatah menyatakan, “Barangsiapa menguasai benih akan menguasai pangan, barang siapa menguasai pangan akan menguasai penghidupan.” Memahami hal ini mudah saja. Bayangkan Anda mengurung beberapa ayam (Gallus gallus) dalam sebuah kandang, entah berupa kawasan berpagar tinggi atau rumah tertutup bak bui. Kandang itu tak ubahnya negara teritorial, sebut saja negara Avesia, dan ayam-ayam itu penduduknya, ayam imigran gelap justru menambah kekayaan Anda, sementara Anda adalah pengurus publik ayam yang memberi pakan tiap hari yang menyebut diri ‘pemberi perintah’.

 

Anda sadar betul, jenis dan dosis pakan serta waktu pemberiannya berada dalam kendali Anda. Suatu hari, karena kesal diumpati “Ndhasmu!” oleh lansia pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD), Anda memutuskan mengurangi dosis pakan, warga negara Avesia segera ribut dan saling bertarung berebut pakan, biasanya ayam-ayam muda atau sakit tak mendapat apapun. Pemenang pun hanya mendapati pakan yang tak lagi utuh dan layak dimakan. Bahkan, pada kondisi ekstrem, ayam yang kuat akan memangsa ayam yang lemah. 

 

Di lain saat, karena biaya pakan banyak digunakan untuk mengganti atap seng jadi genting mengikuti kegentingan situasi akibat konversi lahan dari pertanian subur ke industri bangunan berupa bata dan genting, Anda mengubah jenis pakannya, dari pelet ke jagung atau cacahan sayur. Karena tidak terbiasa dengan pakan baru, ayam-ayam tidak tertarik mematukinya. Rasa lapar seiring waktu akan memaksa mereka menelan pakan asing lalu terbiasa dengannya atau memilih mencicipi tubuh-tubuh muda warga Avesia yang lemah dan kaya protein, seperti menu Makan Bergizi Gratis, konon.

 

Dan, kekesalan itu memuncak ketika kebijakan penambahan komando teritorial cadangan tetap dilakukan meskipun tidak dibutuhkan karena negara Anda aman dan cinta damai. Anda memutuskan untuk tidak memberi pakan sama sekali. Terkurung di dalam negara Avesia, penduduk kelaparan itu akan mati satu demi satu tanpa sisa. Di antara mereka mungkin ada yang memohon rasa aman dengan jalan tersaji di pinggan Anda Sang Tuan. Toh, jalan menuju ajal tak pernah terjal.

 

Tentu saja berbeda jika ayam-ayam itu Anda liarkan, kehidupan mereka tidak tergantung kepada Anda dan Anda tidak perlu pusing soal biaya. Percayalah, ayam akan pulang dengan sendirinya, mencari tempat bertengger yang menurut mereka aman seperti cecabang pohon atau masuk ke kandang dengan sendirinya dan Anda tinggal menguncinya agar tak diculik dalam operasi Rosa sinensis oleh tetangga yang sadis. Ayam-ayam itu bisa terus hidup sehat dan bahagia ketika berdaulat atas pakan: bebijian liar, serangga, cacing, dedaunan muda, buah jatuh, bahkan sisa makanan yang Anda buang. Bagi ayam-ayam itu, kedaulatan pakan berarti jaminan keberlanjutan hidup.

 

Hal yang kurang lebih sama juga berlaku ketika suatu pihak menguasai pangan suatu kawasan berpenduduk, entah skala dusun atau negara. Negara rawan pangan bisa dibuat kacau tak berkesudahan hingga menyerah pada  kepentingan pihak pengendali pangan. Pengendalian pangan itu bisa bertajuk agenda kecukupan pangan (impor) atau food security ‘ketahanan pangan’ (intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian), tetapi bukan kedaulatan pangan (food sovereignty). 

 

Intensifikasi (penggenjotan produksi) dan ekstensifikasi pertanian (perluasan lahan budidaya) merupakan terjemahan Reforma Agraria menurut Orde Baru untuk tujuan pendayagunaan lahan pertanian, selain itu ialah transmigrasi sebagai pengganti redistribusi lahan dan hak atas tanah; sekaligus proyek Jawanisasi agar kepatuhan pada pemerintahan bercorak feodal-militeristik tersebar.

 

Adalah benar bahwa pangan menjadi salah satu pilar ketahanan nasional, tetapi bukan berarti urusan pangan mutlak menjadi kewenangan lembaga pertahanan negara. Mengapa? Senjata para pegiat lembaga pertahanan difungsikan dan dimaksudkan untuk melukai dan membunuh, alasannya mengikuti pepatah si vis pacem para bellum ‘jika kau ingin damai, bersiaplah perang’. Sedangkan senjata petani (para penghasil pangan itu) untuk menghidupi. “Kedamaian diperoleh dengan berbagi, bukan perang,” ucap Mbah Suko ketika saya membantunya menyeleksi benih bernas yang telah dibilas untuk ditanam, cirinya yang bernas: tenggelam di larutan garam. 

 

Bagaimana bisa urusan menabur kehidupan diserahkan kepada penebar kematian? Peluru tidak akan berkecambah, namun sebutir biji di tangan petani akan berbuah.
Sekarang, mari kita bertanya kepada diri sendiri, dari mana makanan dan air yang kita telan? Alam atau pabrik, awan atau perusahaan air minum? Dari mana obat-obatan yang kita butuhkan, pabrik atau kebun? Bagaimana pengetahuan kita peroleh, diberi paketan atau mencari sesuai kebutuhan?

 

Leluhur kita terliterasi, tidak buta huruf, dan mempunyai daya cipta untuk menghasilkan pengetahuan terverifikasi melalui praktik berulang dengan hasil malar (konstan). Meskipun, mereka tidak mengenal aksara alfabeta dan sistem pengetahuan yang secara sepihak diklaim bersifat ilmiah oleh sekolah. Bahkan, menurut klaim ilmiah itu, pengetahuan (knowledge) belum disebut ilmu (science) jika belum teruji dengan metode ilmiah dan terverifikasi secara obyektif. Inilah keyakinan yang ditanamkan melalui pendidikan modern hingga para penganutnya lupa modernitas tidaklah netral, melainkan sarat kepentingan-kepentingan agar penganut memenuhi maksud dan tujuan modernitas. 

 

Anda boleh tidak percaya, namun pilihan Anda untuk meminum obat daripada jamu berlandaskan dari keyakinan bahwa obat lebih mujarab karena teruji metode ilmiah, sedangkan jamu tidak atau belum. Obat medis mewakili modernitas, science, dan kapitalisme industri kesehatan, menawarkan pereda rasa sakit secara instan. Jamu mewakili dunia tradisional, knowledge, dan otonomi kesehatan tubuh, menawarkan penyembuhan sistemik bertahap. 

 

Pilihan Anda untuk memilih transaksi jual beli daripada barter pun dilandasi keyakinan bahwa moneter menjamin kepastian nilai suatu barang. Keyakinan-keyakinan itu diajarkan turun-temurun melalui pendidikan modern lalu menjiwai praktik-praktik kehidupan Anda, keluarga Anda, lingkungan Anda, negara Anda dan sistem dunia Anda. Di luar keyakinan itu adalah hal yang meragukan atau sama sekali salah menurut standar ilmiah.

 

Berbeda dengan muridnya, Mbah Suko tidak pernah belajar pertanian secara formal dengan metode ilmiah.  Namun, dari pengamatan dan pengalaman, Mbah Suko tahu betul, setiap bulir padi rata-rata menghasilkan 700 butir gabah. Jumlah anakan padi terpacu oleh lahan yang tidak tergenang. Jumlah anakan tidak mewakili jumlah kuntum malai yang berbiji. Ada anakan tidak produktif, sehingga lebih aman menggunakan malai produktif daripada jumlah anakan untuk mengetahui produktivitas. Sementara jumlah anakan menjadi salah satu unsur (variabel) produktivitas menurut science Agronomi.  Jarak ideal setiap rumpun padi sekitar 30 cm dengan toleransi 5 cm, selebihnya memberikan hasil tidak berbeda nyata. “Menanam dengan jarak 25 cm dan 35 cm hasilnya tidak beda jauh, hanya saja, semakin rapat semakin sulit dirawat. Sementara jarak terlalu lebar mengurangi jumlah tanaman. 

 

Petani biasanya berpikir untuk mencari jalan tengah meskipun dinilai sekolah tidak ilmiah,” ujarnya suatu ketika pada saya yang membantu menyiangi sawahnya. Ketika padi ditanam dengan cara pindah tanam (transplanting), usia bibit memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas. Lebih dari dua minggu di persemaian akan menurunkan daya tumbuhnya sehingga padi akan cepat berbuah dengan hasil sedikit. Karena itulah, Mbah Suko memilih tanam benih langsung (tabela) untuk menghemat tenaga kerja sekaligus menyerahkan  pertumbuhan dan perkembangan pada proses alam.

 

Mbah Suko juga tahu, tidak semua serangga adalah hama dan tidak semua rumput adalah gulma. “Apa itu gulma?” tanya Mbah Suko pada saya, jawaban saya, “Tumbuhan yang tidak dikehendaki karena mengganggu tanaman utama. Misalnya, beberapa rumpun padi yang tumbuh dari rontokan sisa panen di tengah hamparan kedelai (Glycine max) atau kacang tanah (Arachis hypogaea) yang dibudidayakan, atau beberapa pisang (Musa sp.) di lapangan golf bekas sawah.”  

 

Mbah Suko menggumam, “Bahkan pengertian gulma pun politis! Menurut kehendak manusia si makhluk politik.” Nah, demikian pengertian hama juga politis: organisme pengganggu tanaman, baik itu insecta ‘bangsa serangga’; aves ‘bangsa burung’ atau mamalia ‘hewan menyusui’ (manusia termasuk mamalia). Semasa muda, Mbah Suko pernah didatangi Babinsa (Bintara Pembina Desa) karena tidak menanam IR64 yang rakus hara dan air, melainkan Jawa Melik dan Ketan Melik si ketan hitam. Tanaman Mbah Suko dicabuti oleh Babinsa, Mbah Suko kembali menanaminya, hingga akhirnya KTP Mbah Suko diambil dan dicap OT (Organisasi Terlarang, dianggap komunis) oleh Negara yang diwakili Angkatan Darat. 

 

“Tentara sudah menjadi hama buat tanaman pangan saya. Menurut petunjuk ‘tukang obat’ berseragam Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), hama harus disemprot pestisida, apakah saya harus menyemproti tentara dengan DDT yang terlarang dan kawan-kawannya?” kenangnya sambil meracik pengusir hama dari perasan kunyit (Curcuma longa), kencur (Kaempferia galanga) dan lengkuas (Alpinia galanga), sejak lama Mbah Suko  menggalakkan ‘gerakan rimpang’. Anak-anak tetangga saya juga hama bagi sebatang rambutan ranum di pekarangan istri saya (Sang Kepala Keluarga merangkap ibu negara rumah tangga), bukan karena anak-anak itu butuh tetapi ingin semata.

 

“Rumput ini namanya alang-alang…” ujar Mbah Suko. “Imperata cylindrica, Mbah,” potong saya, mencoba meneguhkan science di hadapan local knowledge. Penamaan Latin dimaksudkan agar semua orang bisa merujuk pada satu identitas. Mengapa dipusatkan? Agar seluruh bahasa non Latin berada di bawah Latin, baik sistem bahasa maupun nalar pengguna bahasa. Sama seperti Mbah Suko tidak boleh memulai salat dengan menyebut “Gusti Ingkang Maha Agung“, harus “Allaahu Akbar!” meskipun makna keduanya sama. Kekuasaan meneguhkan diri dengan bahasa, misalnya krama inggil (yang didaulat halus) dan ngoko (yang dicap kasar) di kampung halaman saya.

 

“Akarnya manis, cabutlah untuk kita seduh sore nanti,” Mbah Suko tidak peduli penyeragaman nama ilmiah dari  dunia sekolah, baginya alang-alang punya banyak nama menurut tempat di mana mereka tumbuh. “Itu krokot namanya, enak disayur.” Saya mencabut Portulaca oleracea yang beliau maksud. “Nah, akar tanaman ini bisa untuk obat sakit perut, ini rumput keteki. Coba kau gali, ambil akar sekalian bonggolnya. Kalau terputus batangnya yang beruas itu, sisanya akan tumbuh lagi, kalau kena mata bajak traktor sama saja menyebarkannya merata.”

 

Di dusun saya, Daksinarga, di mana tanah-tanah lempung dengan solum (kedalaman) dangkal dan beralas batu karang ditata serupa anak tangga untuk mencegah erosi, traktor tangan pun hampir mustahil digunakan, apalagi traktor beroda empat. Kemutakhiran teknologi tidak berlaku umum, produk science itu membutuhkan prasyarat agar sangkil dan mangkus. Produk tentu saja mengikuti rancangannya, teknologi adalah produk science. Ketidakcocokan teknologi pada keragaman kondisi sudah bermula dari pengabaian keragaman di ranah science.

 

Saya  menggali hati-hati rumpunan Cyperus rotundus itu dengan gathul, semacam cangkul mini khas Gunungkidul. Ini teknologi tepat guna yang dicap kuno oleh sistem science. “Jika malam seterang siang bagaimana kita bisa menikmati bintang gemintang?” ucap seorang kakek pada pengembara muda dalam film Dreams (1990) besutan Akira Kurosawa.
“Wah, nemu bayam duri, enak ini disayur gudhangan, petiklah pucuk-pucuknya biar cabang baru tumbuh dari setiap ketiak daun.” 

 

Saya jadi ingat era Reformasi, pemangkasan pucuk beringin justru menumbuhkan oligarki dari ketiak-ketiak kekuasaan, sebab beringin tidak dicongkel hingga akar-akarnya. Barangkali saat itu para aktivis malu-malu untuk Revolusi. Apakah Reformasi atau Restorasi dipilih agar tetap berubah sambil mengawetkan ketidakadilan? Seperti slogan perjuangan kelompok aksi mahasiswa religius yang berikatan sejarah dengan mantan calon presiden RI (2014 dan 2019) di Malang, Jawa Timur: Damai Menuju Perubahan.

 

Tangan saya tertusuk duri-duri Amaranthus sp. itu saat memanennya untuk diolah menjadi rebusan daun diurapi parutan kelapa. Satu demi satu gulma masuk ke keranjang, termasuk genjer (Limnocharis flava) yang menjadi judul lagu terlarang semasa Orde Baru. Dulu, saya penasaran dengan liriknya, setengah berbisik ayah saya menyanyikannya dengan nada keroncong lagu Kicir-kicir, “Genjer-genjer ini lagunya, lagu lama ya, Tuan…”

 

 
“Sawah Mbah Suko macam swalayan saja,” ujar saya. “Doyan belalang? Tidak alergi, kan?”
“Tidak, Mbah, penduduk di dusun saya biasa makan belalang kayu (Dissosteira carolina), kepompong ulat jati (Hyblaea puera), dan sesekali larva lebah (Apis trigona) saat panen madu.”
“Tapi jangan makan belalang setan, itu beracun,” kata Mbah Suko sambil menunjuk serangga serupa belalang kayu yang bertotol-totol oranye, hitam dan hijau pupus, indah seperti tokoh Cell dalam komik “Dragon Ball”  karya Akira Toriyama, “itu jatahnya segala rupa laba-laba, capung, dan belalang sembah.”

 

Belalang sembah (Mantis religiosa), laba-laba (ordo Araneae), sibar-sibar (ordo Odonata)  adalah pemangsa serangga lainnya, utamanya yang disebut hama. Pemangsa serangga lainnya bangsa burung pemakan daging seperti Pentet (Lanius ludovicianus), katak sawah (Fejervrarya cancrivora), kadal (Mabouya multifasciata) bahkan ular (subordo Serpentes). Takhta puncak pemangsa di ekosistem sawah Mbah Suko diduduki burung hantu (Tyto alba). Mbah Suko memelihara laba-laba penjaring di kotak kaca, musuh alami hama itu sering ia sebar di sawah.  

 

“Kalau hama dan gulma kita makan, bakteri dan jamur bisa dihambat dengan jamu, apakah kita masih butuh insektisida, herbisida dan fungisida pabrikan, racun-racun yang sering disebut obat itu?” tanya Mbah Suko, saya hanya menggeleng-geleng, jawaban “tidak” akan membuat lembaga-lembaga pendidikan pabrik ilmu dan pabrik-pabrik pestisida yang dibangun dari sistem ilmu yang sama jadi bangkrut.

 

“Kalau padi sudah terkena penggerek batang, jenis apapun dan berapapun pestisida yang disemprot tidak akan manjur, sundep menjadi hama ketika berbentuk ulat yang bersembunyi di dalam batang pagi,” jelas Mbah Suko, “kita harus kendalikan saat masih berupa telur di balik daun. Genangan air terkadang membantu penyebaran hama, mereka berenang.”
“Terus, bagaimana sebaiknya pengairan untuk padi, Mbah?”, tanya saya. “Macak-macak atau becek saja. Itu hemat air, merangsang anakan, dan mencegah penyebaran hama.” Jawab mbah Suko. 

 

“Dulu, Mbah Suko belajar perbenihan dari mana?” tanya saya, ketika Mbah Suko sedang mengasah ani-ani atau ketam, alat panen itu dirancang untuk perempuan dan tangkainya yang runcing bisa berfungsi seperti konde. Saya membatin, jika dirancang khusus untuk laki-laki namanya aki-aki. Di mana-mana ani-ani itu sudah tergantikan sabit bergerigi lalu mesin panen sepupu alat berat pertambangan yang dikerjakan laki-laki. Segala yang pabrikan memang ramah pada laki-laki, kecuali gabus steril penyerap guguran menstruasi.

 

“Dari simbok, ibuku,” ujar Mbah Suko, “kebanyakan urusan menyeleksi benih, menanam, menyiangi, merawat kesehatan tanaman, panen, hingga mengawinkan jadi tugas perempuan, laki-laki sebatas mencangkul, membenahi pematang, atau mengatur pengairan.” Pertanian tradisional sesungguhnya ramah Perempuan. Perempuan bukan hanya penguasa dapur yang menentukan gizi keluarga yang berdampak pada mutu manusia, namun juga menguasai pengetahuan pengelolaan sumberdaya. 

 

Pertanian modern berwajah Revolusi Hijau menghapus perempuan dari peran peradaban, apalagi difabel, misalnya difabel netra, daksa atau mental. Pertanian ramah GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion) memang masih menjadi pekerjaan rumah, perlu melibatkan teknologi mutakhir tanpa terjebak teknokrasi dan kolonisasi pengetahuan, misalnya seperangkat IoT (Internet of Things) yang tidak dapat diperbaiki atau dikembangkan petani.

 

“Dulu, simbok mengajakku ke sawah sebelum panen padi. Simbok menunjukkan mana rumpun yang disiapkan untuk benih dan untuk pangan.” Kata Mbah Suko.

 

“Caranya bagaimana, Mbah?”tanya saya.

 

“Untuk pangan tidak ambil pusing, mau kualitas buruk atau campuran tidak masalah. Namun, untuk benih harus dipilih yang terbaik, rumpun paling tengah, tumbuh baik, bijinya banyak, gemuk dan seragam alias sejenis. Biar ajeg alias tidak berubah-ubah jenis dan hasil panennya. Rumpun-rumpun untuk benih harus benar-benar masak, maka sering dipanen terakhir, mereka dipagari biar tidak ikut terpangkas.” Benih memang harus masak secara fisiologi, tidak sekadar masak konsumsi atau layak panen untuk dijual atau dimakan.

 

“Lalu agar terjamin benihnya seragam atau sejenis bagaimana, Mbah?”, tanya saya. 

 

“Menanam tanaman jenis lain sebagai pagar pelindung, misalnya jagung, tebon atau sorgum, rumput pakan dan jawut atau jewawut.” Jagung (Zea mays) masih sering dijumpai, meskipun berbiji kuning atau putih, dulu saya pernah menjumpai warna bijinya ungu. Sorgum (Sorghum bicolor), baik berbiji putih, merah atau hitam dan jewawut (Setaria italica) baik berbiji coklat atau merah, sudah jarang ditemukan karena tidak ditanam dan dianggap bukan pangan melainkan pakan burung. Istri Mbah Suko kerap membuat jenang jewawut atau mengolah sorgum jadi bubur, bahkan jali atau jelai (Coix lacryma-jobi).

 

“Apa tanaman pagar tidak menjadi gulma bagi padi-padinya, Mbah?”

 

“Tidak, kalaupun bersaing biar sama padi di tepian sawah yang kelak dimakan, tetap panen kok, tak perlu cemas. Padi di tengah tetap dapat sinar matahari cukup.” Mbah Suko tidak dibayangi ketakutan gagal panen atau kurang panen dengan tumpang/campur sari (policulture). Petani pertanian modern yang monokultur dihinggapi kecemasan, maka tidak menoleransi perbedaan di lahannya, persis sikap kaum fasis.

 

“Nah kalau tidak punya tebon atau jawut, petani jadi bersaing sama burung, mereka bisa menghabiskan rumpun-rumpun calon benih padi. Tebon dan jewawut lebih disukai burung, maka kamu jangan heran kalau sawah simbah tidak nurut industri yang menjunjung tinggi keseragaman tanaman demi panen melimpah untuk satu jenis saja. Cuma ganja dan opium yang tidak simbah tanam,” candanya, waktu itu saya hanya tersenyum, membayangkan bentangan lahan berisi jagung, padi, cabai (Capsicum annuum), bawang merah (Allium cepa), tebu (Saccharum officinarum), sawit (Elaeis oleifera) semata seperti anak-anak sekolah yang diseragamkan dari TK, SD, SMP, SMA hingga Akademi Militer/Polisi atau Kampus Kedinasan. Gumam hati saya, di mana Bhinneka Tunggal Ika?.

 

“Kalau mau dapat jenis baru, simbok harus kerja lebih sabar dan hati-hati. Sifat-sifat dari kedua induk harus ajeg, lalu mengawinkannya di kamar tertutup tanpa gangguan angin dengan cara dan waktu yang pas, setelah bijinya tumbuh diamati baik-baik bentuknya, lalu ditanam, lalu diamati pertumbuhannya sampai benar-benar mendapat benih idaman.”


“Berapa lama?”


“Tujuh turunan juga belum tentu dapat, tetapi sifat-sifat campuran sudah tampak dari biji yang ditanam. Intinya dicari yang ajeg dan sesuai kebutuhan, misalnya ingin dapat yang panennya banyak, tahan kering dan rasa enak.” Menurut muridnya, penyilangan dan seleksi benih yang dilakukan simbok Mbah Suko dan pemulia tanaman bergelar doktor sama, perbedaan hanya pada siapa yang diakui oleh kekuasaan sebagai pengetahuan yang sah untuk disebut ilmu.


Pengetahuan dan Kekuasaan

Murid Mbah Suko, pemburu benih itu, seorang perempuan pintar, proletar dan telantar.
Pintar tentu saja, itu syarat lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1997/1998. Ia pindah dari kawah candradimuka eksakta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya yang telah ditempuhnya sejak 1997 (musisi Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh pencipta lagu kritik praktik rente: Ijon, kritik urbanisasi: Jamilah, dan kritik ekologis: Berita Cuaca pernah menjadi mahasiswa ITS). Mengikuti angin reformasi, pada 1998 Sang Murid beralih ke UGM di mana mata kuliah matematika dasar, kalkulus dan statistika biometrik menjadi dasar bagi jurusan Pemuliaan Tanaman (plant breeding). 

 

Kepintarannya sampai pada satu pertanyaan, “Jika pemulia tanaman merekayasa benih unggul dan disebar sebagai benih bersifat hibrida, bukan galur murni, sehingga penurunan hasil dipastikan terjadi apabila hasil panen ditanam lagi, maka pemulia tanaman menciptakan ketergantungan benih bagi petani; sementara Negara melarang petani menjadi pemulia tanaman dengan undang-undang, akibatnya benih-benih lokal kita sendiri ilegal. Lalu, ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi untuk kepentingan siapa? Melayani pihak yang mana? Mengapa tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ agar  memerdekakan bangsa?”

 

Filsafat Ilmu yang pernah ia terima mengajarkan ilmu untuk ilmu, kenyataannya ilmu untuk modal bukan moral. Science tidaklah netral sejak semula, politik tak terhindarkan dalam setiap hal, sihir atau bangunan narasi science-lah yang dikesankan netral. Sayangnya, para pembelajar dalam sistem pendidikan percaya dunia baik-baik saja, termasuk merasa aman dicengkeram sejenis pengetahuan yang membenarkan dan menyuburkan keserakahan. Ketamakan struktural biang ketimpangan, penyebab pemiskinan (proletarisasi).


Proletar sudah pasti. Latar belakangnya bukan keluarga mapan. Tekanan patriarki sudah ia rasakan sejak kecil, “Aku pernah merengek minta boneka pada kakekku, setelah menabung akhirnya dia membelikanku boneka… laki-laki,” ujarnya mengenang masa lalu.  Keluarga dan lingkungan menyiapkannya sebagai perempuan yang harus mampu menanggung segala beban. Pulang sekolah, pekerjaan rumah tangga harus beres sebab ibunya masih berdagang di pasar, sementara ada ayah di rumah. Untuk membangun posisi tawar terhadap kaum mapan, ia harus selalu masuk dua besar sejak SD hingga SMA. “Prestasi akademik akan membawaku keluar dari desa penjara ini,” ucap tetangga Presiden RI ke-4, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib, dan Ponari si bocah ajaib itu. Proletariat itu melekat hingga ia masuk di Kampus (konon) Rakyat lalu memburu benih padi lokal. Dengan semangat ia berucap, “Jika aku bukan bagian dari penyelesaian maka aku bagian dari persoalan.” 

 

Bagi intelektual borjuis, menjadi bagian dari penyelesaian adalah kemewahan, lebih mewah dari hidupnya yang bergelimang harta, maka tidak heran jika kaum bermental borjuis lebih memilih sisi di seberang penyelesaian. Kedua kelas itu sama-sama sadar bahwa berpengetahuan sama saja berkuasa. Syahdan, perempuan proletar itu berdiri di hadapan dunia yang dikontrol laki-laki, tatanan yang eksploitatif, predatoris, dan eksklusif. Ia proletar di semesta science yang mencetak para borjuis pelayan elit global.  
Telantar menjadi ujung perjalanannya sebagai bestari, pemburu lalu pelestari kekayaan plasma nutfah nusantara. 


Veteran Angkatan Darat itu lulusan operasi Seroja, penoreh sejarah bertinta darah di Santa Cruz, boleh jadi kepala dusun itu salah satu pemeran film Balibo (2009) di kehidupan nyata. Di media, latar belakangnya samar karena ia mengaku ber-KTP dengan cap OT, pejabat lokal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang saat itu digawangi mantan Danjen Komando Pasukan Khusus (08-Pandu), ketua lokal Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), dan yang tak kalah penting guru-guru para aktivis muda yang sedang berahi dengan Pertanian Berkelanjutan, LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) atau Pertanian Organik karena Sang Veteran wisudawan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), suatu program pemerintah dengan FAO (1989-1999) pasca wereng coklat (Nilaparvata lugens) memunahkan berjuta hektar padi di Indonesia. 

 

Bersama enam lelaki sejawatnya, Sang Murid menanam sedikit cadangan benih itu di sawah Sang Seroja. Tidak hanya menanam, tetapi juga mengamati pertumbuhannya, mencatat hal-hal yang menjadi masalah, mendiskusikan dan menjalankan penyelesaian, harapannya benih penyimpan pengetahuan dan masa depan itu terselamatkan melalui budidaya.
Sang Seroja mendatangkan jurnalis media nasional ternama, kegiatannya diliput pada halaman nasional di halaman paling belakang dengan nada positif “Petani Organik dan Pelestari Benih Lokal dari Bantul”. 

 

Dunia pertanian geger gedhen ‘gempar’, terkejut dengan rasa bahagia bercampur takjub karena masih ada pahlawan lingkungan hidup di ekosistem yang semakin redup.  Hari-hari berikutnya, Sang Seroja didaulat oleh Masyarakat Pertanian Organik Indonesia sebagai pahlawan keanekaragaman hayati, mendapat piala dan jutaan uang dari lembaga yang dipimpin anak seorang raja…untuknya sendiri. Termasuk benih-benih dari berbagai komunitas atas jerih payah Mbah Suko dan muridnya yang diklaim sebagai temuan Sang Seroja. Bahtera kongsi itu kandas sebelum berlabuh di cita-cita nun jauh. 

 

“Dia sepersepuluh petani dan sisanya makelar, Mbah Suko,” lirih Sang Murid menyesali sikap guru borjuisnya.

 

“Sekarang semua beras yang dicap tandatangannya jadi organik, meski kami tahu asalnya dari pasar,” timpal teman Sang Murid. Pangan organik hampir selalu lebih mahal dari pangan konvensional (non ‘organik’), padahal setiap orang punya hak untuk hidup sehat dari pangan sehat dan murah. Mana bisa ritme produksi alam yang terbatas melayani permintaan pasar yang tak kenal batas? Modernisasi pertanian pun taat hukum pertambahan hasil yang semakin menurun, The Law of Deminishing Return

 

“Lalu, ketika lembaga sertifikasi organik memeriksa kemurnian pangan organiknya, ia kirimkan contoh dari pot yang benar-benar organik, Mbah Suko,” ucap rekan sejawat Sang Murid, ia menyaksikan peristiwa itu saat mengunjungi Sang Seroja. 

 

“Kalau simbah mempersilakan setiap pembeli berkunjung sewaktu-waktu ke sawah simbah, ambil contoh tanah, air dan tanaman boleh, enggak juga tidak apa-apa. Makanya, simbah mengandalkan kepercayaan daripada sertifikasi. Perusahaan semestinya menerima penipuan guru barumu itu sebagai balasan atas penipuannya, kan katanya Revolusi Hijau menyejahterakan? Iya, memperkaya kaum kaya, memiskinkan kaum miskin.” 

 

Pertanian Organik sudah bukan bahasa perlawanan bagi ketidakadilan sosial, ekonomi, budaya, dan sistem-sistem ekologi, jargon itu tinggal merek baru industri pangan yang tidak steril dari penipuan. Organik berarti bebas dari senyawa sintetik bukan pengorganisasian manusia dan sumber daya menuju sistem organik secara organis (tanpa paksaan,  mengikuti perkembangan kapasitas, setara dan berjejaring).

 

Simbah itu prinsipnya tidak pabrikan, dengan begitu simbah harus belajar, harus berpengetahuan lalu menguasai penghidupan simbah sendiri. Negara ini semestinya juga belajar biar merdeka 100 %,” itu kata-kata terakhir yang saya dengar dari Mbah Suko pada 2010 lalu, ketika saya menyampaikan donasi bagi mereka yang terdampak erupsi Merapi, yang turut memunahkan benih-benih lokal Mbah Suko di gudang yang dikoyak bebatuan dan abu vulkan serta yang sedang tumbuh di sawahnya.

 

Empat tahun sebelumnya, sesar Opak di Bantul  berguncang dengan kekuatan 5,7 SR, meruntuhkan banyak sendi-sendi infrastruktur, baik Traju Mas ‘Timbangan Emas’ salah satu bangunan dalam Kesultanan Yogyakarta simbol keadilan maupun rumah-rumah dan gudang penyimpanan hasil panen beragam jenis padi lokal yang diklaim temuan Sang Seroja. Gempa diikuti hujan tiga hari, seluruh benih masa depan itu berkecambah dalam karung-karung lalu mati tak terawat tertimbun bangunan.

 

Sepuluh tahun berselang setelah Mbah Suko berpulang, Indonesia memilih pelayan rakyat yang baru. Nabi Muhammad SAW, panutan Mbah Suko dan muridnya, pernah bersabda “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
Negara ini telah lama diserahkan kepada pedagang yang mencari laba, maka rakyat memanen kerugian. Jika negara yang butuh hidup ini diserahkan kepada pembantai, maka…  

 


‘Sudahpaham’ (Pun Dhong), HUT Pramoedya Ananta Toer 2026.
Kus Sri Antoro adalah salah satu pemegang kedaulatan tertinggi NKRI.