Pada suatu pagi yang tenang di sebuah rumah kecil, ketika cahaya matahari baru saja masuk melalui celah jendela, seorang anak perempuan bertanya kepada ibunya, “Buk, apakah menunjukkan rambut itu haram? Jadi kita harus pakai cindung?”Ibunya sedang melipat selimut di sudut tempat tidur. Tangannya berhenti sejenak. Ia menoleh pada anaknya yang sudah mengenakan seragam sekolah, kemeja putih, rok merah, dan dasi merah dengan logo Sekolah Dasar yang tergantung rapi di lehernya.
“Haram? Siapa yang bilang?” tanya sang ibu pelan.
“Temanku, di sekolah,” jawab anak itu. Ia mengucapkannya dengan nada datar, seperti menyampaikan informasi yang baru saja ia dengar, tanpa benar-benar memahami seluruh maknanya.
Pertanyaan sederhana itu membuat pagi terasa sedikit lebih sunyi. Bukan karena jawabannya sulit, tetapi karena di dalam pertanyaan anak-anak sering kali tersembunyi dunia yang sedang mereka pelajari, tentang benar dan salah, tentang aturan, tentang tubuh mereka sendiri.
Ibu itu lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak buru-buru memberi jawaban pasti.
“Ada yang bilang haram, ada juga yang bilang tidak,” katanya akhirnya. “Orang-orang bisa punya pandangan yang berbeda. Menurut Ibu, kita boleh mengikuti apa yang terasa benar di hati. Kalau menurut hatimu sendiri bagaimana?”
Anak perempuan itu berpikir sebentar. Tangannya merapikan dasinya yang sedikit miring. Wajahnya tampak serius, seperti sedang menimbang sesuatu yang penting.
“Kalau aku sih…” katanya pelan.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan campuran bahasa yang biasa ia dengar dari buku pelajaran, televisi, dan percakapan sehari-hari.
“My hair is my nature. Jadi gak pakai cindung gak papa.”
Ibunya tersenyum kecil. Jawaban itu tidak terdengar seperti pernyataan yang memberontak, juga bukan penolakan yang keras. Lebih seperti kesimpulan sederhana yang lahir dari cara berpikir seorang anak, jujur, langsung, dan belum dibebani oleh terlalu banyak lapisan penilaian.
Di luar rumah, suara sepeda motor mulai terdengar. Tetangga membuka pagar, ayam berkokok dari halaman belakang. Pagi berjalan seperti biasa.
Namun percakapan kecil itu tertinggal di ruang keluarga seperti sebuah catatan halus tentang bagaimana anak-anak mulai belajar memahami dunia. Mereka belajar dari teman, dari sekolah, dari lingkungan, dan dari rumah, tempat pertama di mana pertanyaan mereka didengar tanpa tergesa-gesa.
Bagi sang ibu, mungkin yang paling penting bukanlah memastikan anaknya segera memegang satu jawaban yang mutlak. Yang lebih penting adalah memberi ruang bagi anak itu untuk berpikir, merasakan, dan mengenali suaranya sendiri.
Sebab tubuh, keyakinan, dan pilihan hidup sering kali adalah perjalanan panjang yang tidak selesai dalam satu pagi.
Dan di pagi itu, seorang anak perempuan telah memulai perjalanan kecilnya dengan sebuah pertanyaan sederhana tentang rambut, dan sebuah kalimat jujur yang ia temukan sendiri.
Meifita Handayani adalah seorang pegiat lingkungan yang telah menekuni isu lingkungan, GEDSI dan perubahan perilaku. Ia bisa dihubungi melalui email medianha@proton.me